Diskusi Tim Bappenas RI dan BRMP Bali Bahas Pengembangan Pertanian Organik di Bali
Denpasar, 23 Desember 2025 - Sehubungan pelaksanaan Perpres 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025-2029, khususnya Proyek Prioritas 5 “Implementasi Bantuan Langsung Petani (BLP)”, Tim perwakilan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia mengunjungi BRMP Bali untuk melaksanakan diskusi terkait proses verifikasi dan validasi data petani penerima bantuan/subsidi. Diskusi tersebut diarahkan untuk mendapatkan data/informasi serta masukan terkait proses penentuan kriteria calon penerima BLP. Kunjungan pun diterima langsung oleh Kepala BRMP Bali dan Staf lainnya.
Chindy Merysa, sebagai Ketua tim dari Bappenas RI menyampaikan maksud dan tujuan mereka untuk menggali informasi lebih dalam terkait dukungan BRMP Bali terkait data petani, soil health, dan pengembangan pertanian organik di Bali. Selain itu informasi yang digali terkait dukungan BRMP Bali terhadap program strategis Kementan seperti LTT dan lainnya.
Menanggapi permintaan tersebut Kepala BRMP Bali, Dr. drh I Made Rai Yasa, M.P., memaparkan secara rinci data dan informasi terkait dukungan BRMP Bali terhadap pengembangan pertanian organik, LTT dan program strategis Kementan lainnya.
Dalam paparannya dijelaskan terdapat beberapa faktor penghambat minat petani untuk melanjutkan pertanian organik diantaranya adalah produktivitas yang rendah, harga jual yang tidak sesuai, harga pupuk organik mahal dan biaya sertifikasi yang mahal. “Selama ini kami telah berupaya mencari solusi dari permasalahan tersebut salah satunya mengembangkan varietas padi khusus yang harganya relative lebih tinggi dibandingkan padi biasa. Karena jika petani bertani organik dengan varietas padi pada umumnya selisih harga yang mereka peroleh tidak terlalu besar dibandingkan non organik sedangkan pada pertanian organik produksinya lebih rendah” tandasnya.
Terkait LTT di Bali Kepala BRMP Bali juga menjelaskan beberapa kendala yang dihadapi antara lain alih fungsi lahan yang cukup tinngi, kerusakan jaringan irigasi menjadi kendala utama dalam mencapai target yang ditentukan pemerintah pusat. “Upaya kami adalah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pusat dan pihak terkait lainnya untuk mencari solusi terbaik untuk mengatasi kendala tersebut” ujarnya.
Disampaikan pula secara umum kendala pertanian di Bali yang tidak kalah penting adalah kesuburan lahan yang semakin menurun sehingga produksi pertanian khususnya beras menjadi stagnan meskipun volume pemberian pupuk an organik terus ditngkatkan oleh petani. “Oleh karena itu penting untuk melakukan perbaikan kesuburan lahan melalui penambahan bahan organik dan bahan pembenah tanah” ungkapnya.